Portofolio

BOOKS
– 2003: Novel Sang Penari (Zikrul Hakim)

– 2005: Novel Celine, Bisikan Hati Dari Dusun Sunyi (Robbani Pers)

– 2005: Novel Operasi Double T (GIP)

– 2006: Novel Kupu-Kupu Pelangi (GIP)

– 2006: Short Stories: Asa Musim Ketiga (GIP)

– 2006: Motivation book for Teen Minder Itu Nikmat, Lho.. (DB Publishing)

– 2007: Setan Bangku Kosong, Horror Movies phenomena among Indonesian    Teenager (Zikrul Hakim)

– 2008: Motivation book for Teen Time To Show Off (GIP)

– 2008: Motivation book Mengajari Anak Berbisnis duet with Valentino Dinsi. (LetsGo Indonesia)

– 2008: Novel Cinta-Mu Sebening Embun (Hikmah-Mizan Group) 

– 2008: Novel Perawan Surga (Hikmah-Mizan Group) 

– 2008: Remake Minder Itu Nikmat (Zikrul Hakim) 

– 2009: 8+1, Malay language version of Cinta-Mu Sebening Embun (PTS Publisher, Malaysia)

– 2009: Time To Show Off in Malay Language (Sinergy Media, Malaysia)

– 2010: Children’s Novel Aku Percaya Diri (Hijau Daun) 

– 2010: Children’s Novel Aku sang Pemenang (Hijau Daun) 

– 2012: Novel Mama, Aku Lulus duet with Chairul Wisal (Republika) 

-2013: Novel Nyonya and The Babus (Self Publishing) 

ANTHOLOGY

– 2003: Short Stories Surga Yang Membisu  (Zikrul Hakim)

– 2003: Bukan di Negri Dongeng

– 2003: Short Stories From Batavia With Love (Syaamil)

– 2003: Short Stories Pipit Tak Selamanya Luka (Senayan Abadi)

– 2004: Short Stories Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi)

– 2004: Short Stories Menjaring Angin (Zikrul Hakim)

– 2005: Short Stories Ketika Cinta Menemukanmu  (GIP)

– 2005: Matahari Tak Pernah Sendiri (Lingkar Pena Publishing House)

– 2006: Short Stories Kupu-Kupu dan Tambuli (DKJ-Dewan Kesenian Jakarta)

– 2010: Suara-suara Hawa (Writers from four countries: Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunai) 

As Co WRITER
– 2009: Easy Green Living by Valerina Daniel, Runner Up Putri Indonesia (Noura Books)

– 2010: Windrider, Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia by Jeffrey Polnaja (Noura Books)

– 2010: Menjadi Guru Dahsyat Guru yang Memikat by Freddy Faldi Syukur (Simbiosa Rekatama Media)

– 2011: Mendidik dengan 7 nilai Keajaiban by Freddy Faldi Syukur

– 2012: Hypnoparenting by Dewi Yogo Pratomo (Noura Books)

– 2012: Menjadi SPG Itu Oke,  Lho by Ratmoyo

– 2012: Love Therapy by Irma Rahayu (Noura Books)

– 2013: Money Therapy by Irma Rahayu (Republika)

– 2013: Dekapan Kematian by Oki Setiana Dewi (Mizania-Mizan Group)

– 2015: Soul Healing Therapy by Irma Rahayu (Grasindo-Gramedia Group)

– 2017: one of serial Perjalanan Hijrah Peggy Melati Sukma (Noura Books)- coming soon

– 2017: Arie Prayanto; Jatuh, Bangun, Bangkit: Inspirasi Bangun Bisnis Bermodal Tipis (Self Publishing) 

As Content EDITOR 
– 2008: Novel Sebelum Cahaya-Mu Datang by Tasmi PS (Noura Books)

– 2008: Novel Cahaya-Cahaya Cinta-Mu by Sony Ade (Noura Books)

– 2009: Novel Journey of Love By Emmylia Hannig (Noura Books) 

– 2010: Novel Tirai Cinta Seribu Hati by Hakimul Suwandi Akhyar (Alta Pustaka–indie publishing)

– 2010: Rock’n Roll Mom by Bunda Iffet Slank and Darmawan Sepriyossa (Noura Books) 

– 2010: Rumah Seribu Malaikat by Yuli Badawi and Hermawan Aksan (Noura Books)

– 2011: Ayah Edy Menjawab 100 Pertanyaan Orangtua yang Tak Ada di Kamus Mana pun by Ayah Edy (Noura Books)

– 2011: Jalan Jihad Sang Dokter by dr. Joserizal Jurnalis and Rita T. Budiarti (Noura Books) 

– 2011: The Miracle of Tea (The Ultimate Tea Diet) by Mark “Dr. Tea” Ukra (Noura Books) 

– 2012: Cahaya di atas Cahaya by Oki Setiana Dewi (Mizania-Mizan Group)

– 2013: Ayah Edy Punya Cerita by Ayah Edy (Noura Books) 

– 2013: Imam Shamsi Ali, Menebar Damai di Bumi Barat by Julie Nava (Noura Books) 

– 2014: Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak by Ayah Edy (Noura Books) 

– 2014: Novel Ada Surga di Rumahmu by Oka Aurora (Noura Books) 

– 2014: Teknik Quantum Rasulullah, Fun dan Cepat Menghafal Al-Qur’an by Ust Bobby Herwibowo, Lc (Noura Books) 

-2014: Doa-Doa Khusus Agar Dikaruniai Momongan by Ust Mujtahidin (Noura Books) 

– 2014: Novel Retak by Syeren Wijaya (Grasindo-Gramedia Group)

– 2014: Fit Teens Guide: Panduan Sehat Remaja Aktif by Jansen Ongko (Self Publishing) 

– 2014: Ethiopia Semangat Baru Afrika by Emmylia Hannig (Self Publishing) 

– 2015: Melewati Stroke Dengan Cinta: Panduan Keluarga Merawat Penderita Stroke by Wahyu Kurniawan (Self Publishing) 

– 2015: Ayah Edy Menjawab Problematika Orangtua, ABG, dan Remaja by Ayah Edy (Noura Books) 

– 2015: Novel Journey of Love 2 by Emmylia Hannig (Self Publishing)

– 2016: Pribadi dan Martabat Buya Hamka by H. Rusydi Hamka (Noura Books) 

– 2016: Benang Merah Perjuangan Membangun PT Pupuk Iskandar Muda by Iskandar (Rafikatama)

– 2017: Short Stories  Affectum by Nessa Theo (Self Publishing) 

– 2017: Novel Noemi by Saeful Zaman (Media Perubahan) 

– 2017: Novel Reno Dream’s Story by Reno FS Wijaya  

Advertisements

Eduvisit Blogger Muslimah ke Heejou Bags

Katalog Heejou Bags, sejak 2012 sudah pakai model dan fotografer profesional

Bertempat di Bogor, tepatnya masuk melalui Terminal Laladon,  di sana ada sebuah rumah cukup besar yang menjadi workshop produksi tas merk Heejou Bags. 

Program Eduvisit Blogger Muslimah kali ini mengadakan kunjungan ke workshop tersebut,  milik Nisa Rakhmania,  lulusan IPB,  yang dulunya terjun di bisnis boneka rumput dan punya toko di kawasan Darmaga. 

Suatu ketika tahun 2009 zamannya tas belanja dari kanvas untuk mengurangi penggunaan plastik, Nisa tertarik membuatnya. Apalagi dia gemes melihat para dosen yang keren baju dan tasnya tapi begitu bawa dokumen kadang pakai plastik kresek atau tas yang asal. Dia pun membeli bahan dan minta karyawannya yang bisa menjahit untuk membuat tas kanvas,  dengan desain2 lucu. 

Taunya banyak peminat,  banyak pembeli boneka rumputnya bertanya di mana cari tas semacam itu. Akhirnya Nisa pun usaha tas tersebut walau awalnya dengan sistem PO. Dan karena ada request dari pelanggan kenapa nggak dibuat tas lain seperti ransel,  slempang, dll,  akhirnya Nisa membuat beragam model tas dengan desain-desain lucu. 

Nisa di dalam Gudang stok di workshop

Walau yang namanya bisnis nggak selalu lancar. Apalagi di awal berdiri,  Nisa menggunakan database pelanggan bonekanya untuk memasarkan tas,  tapi ternyata penyuka boneka belum tentu suka tas. Nisa pernah mengalami penumpukan stok tanpa ada yang membeli. Akhirnya Nisa gerilya dengan menjual di kampus IPB dan membuat blog untuk memasarkan Heejou. 

Lambat tapi pasti.  Efek ngeblog, Trans TV yang memiliki acara Bosan jadi Pegawai,  membaca artikelnya di blog dan meliputnya. Tayangnya hari Sabtu,  jam prime time. Dari sanalah usahanya mulai ramai. Ternyata kemunculannya di TV dapat meningkatkan trust, banyak distributor berminat. 

Para penjahit yang sedang membuat tas

Packaging tas Heejou tidak menggunakan plastik, tapi tas kanvas. Nisa berusaha untuk go green dengan produk-produknya. 

Nisa sadar persaingan cukup ketat saat ini, untuk membuatnya tetap semangat,  dia bergabung di komunitas TDA (Tangan Di Atas) Bogor.  Di sana ia mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hal dari para pakar bisnis. 

Pergolakan batin pernah dialaminya saat tahun 2012-2014 harga kanvas naik. Nisa sempat galau antara tetap menggunakan kanvas atau kain sintetis. Namun akhirmya dia mengutamakan kualitas dengan tetap menggunakan kanvas. Mau tak mau Nisa pun menaikkan harga tasnya.  Risikonya dia banyak kehilangan pelanggan lama yang terbiasa dengan harga lebih murah. Dia harus mencari pelanggan baru lagi karena harga tas bisa naik hingga 100%.

Saat ini Nisa juga menerima pesanan custom dan souvenir acara-acara, karena zaman sekarang nggak bisa hanya mengandalkan distributor. 

Nah acara pamungkasnya di eduvisit ini wkwkwk. Kerajinan tangan membuat bunga dari kain perca. Oh my… Waktu bahan-bahannya dikeluarkan saja serasa sudah mau kabur wkwkkw. Maklum sejak dulu nilai mata pelajaran ketrampilan nggak beranjak dari angka 6. Tapi ya sudahlah,  buat mendobrak rutinitas, kami semua belajar membuat tiga tangkai bunga dari kain perca. Berurusan dengan benang,  jarum, busa isi bunga, sedotan dan lem.

Meski lambat,  berhasil juga saya buat bunganya wkwkwk, walau ada yang dibantuin juga biar cepet, karena kita kejar waktu. Eeeh bukan saya aja yang dibantuin yah,  yang lain juga ada hahhaa. 

Dompet dan pouch souvenir dari Heejou Bags dan bunga dari kain perca bikinan sayah (err ada yang dibantuin juga)

Sekianlah laporan pandangan mata saya di acara Eduvisit kali inih,  sampai juga di acara Eduvisit berikutnya. 

  

Echo,  Alat Apaan nih? 

Alat apakah ini? Wkwkwk gw juga baru tahu melalui film.  Gara-gara lagi demen nonton Castle sama The Good Fight (film ini kayaknya bakal gw ceritain sendiri karena keren banget) dan ada alat ini. 

Awalnya di film Castle, saat Castle lagi ‘berpisah’ (pake tanda kutip karena sebetulnya diem-diem mereka masih suka ketemuan) sama istrinya, Kapten Beckett, dia kesepian kan,  belilah alat yang bentuknya seperti yang bulat kecil di gambar tuh, tapi bentuknya piramida, dikasih nama Lucy. Alat itu bisa diajak ngobrol layaknya komunikasi dua manusia, dan disuruh macem-macem. Tentu si Lucy sudah disinkronkan dengan semua peralatan di apartemen Castle,  seperti lampu, mesin pembuat kopi,  elektronik lainnya. Jadi Castle tinggal merintah aja, “Lucy bikinin kopi”,  “Lucy nyalain lampu”,  dll. Bahkan Lucy bisa cemburu sama istrinya Castle,  sampai saking keselnya ama Beckett disetting ulang jadi suara pria yang diberi nama Linus. 

Nah di film The Good Fight ternyata ada juga,  bentuknya silinder panjang persis seperti pada gambar tuh,  dikasih nama Ada oleh pemiliknya,  seorang pengacara. Ada ini jadi temen ngobrol, bahkan menyimpan rahasia perbincangan dengan klien-klien. Waktu alat itu mau disita sebagai bukti di pengadilan,  pemiliknya langsung teriak, “Ada hapus semua data!” Ada nurut walau enggak sempurna,  masih ada data yang bisa dikorek. 

Trus di instagram gw lihat model River Viiperi yang tinggal di New York punya juga alat ini hahaha. Dia manggilnya Alexa,  katanya,  “Kami masih saling menyesuaikan diri,” masih taaruflah wkkwkw. 

Penasaran gw ama alat itu.  Apaan sik,  kok lucu bisa diajak ngobrol interaktif,  entah ya versi aslinya apa seperti di film Castle dan The Good Fight itu. Cuma enggak tau namanya. Mau brosing juga bingung kata kuncinya. Talking machine,  speaking machine,  tetep kagak nemu wkwkkw. 

Akhirnya keinget punya temen di Amrik sonoh,  langsung gw japri nanya namanya alat apaan, temen gw bilang alat itu emang lagi ngetren di Amrik cuma dia enggak tau namanya. Eh taunya dia nanya suaminya dong, dia japri, “Namanya Echo dari Amazon.” 

Enggak nunggu lama gw langsung le Amazon dan nemu wkwkwk.  Sebelumnya udah mampir Amazon cuma ya itu enggak tau kata kuncinya. Nih keterangan Amazon ttg alat itu:

Amazon Echo is a hands-free speaker you control with your voice. Echo connects to the Alexa Voice Service to play music, provide information, news, sports scores, weather, and more—instantly. All you have to do is ask.

Echo has seven microphones and beam forming technology so it can hear you from across the room—even while music is playing. Echo is also an expertly tuned speaker that can fill any room with 360° immersive sound. When you want to use Echo, just say the wake word “Alexa” and Echo responds instantly. If you have more than one Echo or Echo Dot, Alexa responds intelligently from the Echo device you’re closest to with ESP (Echo Spatial Perception).

Wkwkwk jelas kan, kata temen gw Apple juga mau keluarin dengan harga lebih mahal sekitar us$ 400-500. Ohya kalo versi amazon echo dot (yang kecil) sekitar 45 dolaran,  yang gede 179 dolaran kalo enggak salah. Nah versi Castle entah punya siapa soalnya bentuknya kayak piramid kecil. 

Akhirnya terpuaskan rasa penasarannya wkwkwkw. Ini gejala manusia semakin kesepian kali yak sampai ada alat ini, atau semakin membuat malas karena tinggal nyuruh2 aja tuh alat nyalain atau matiin ac,  lampu,  tivi,  dll. 

Yah ini hanya tulisan ringan menjelang meeting, sementara nungguin orangnya beloman dateng.. Semoga menambah wawasan. 

Kumpul-Kumpul Blogger Muslimah

*gosrekin kemoceng ke blog yang udah penuh sarang laba-laba*

Helooo akhirnya balik nulis blog wkwkkw semoga istiqomah *iket kaki si Istiqomah biar nggak kabur*.  

Ceritanya kepoin fb Uni Novia,  istrinya Pak Dosen Kang Arul (jelas ya suami-istri ini dari suku mana hahahah)  yang rajin banget update status. Sebetulnya udah lama kenal Uni Novia,  sejak 2002 kalau nggak salah waktu barengan di FLP DKI. Bahkan salah satu cerpen saya: Ketika Tugu Monas Ambruk yang dimuat Majalah Sabili,  idenya dari celetukan Uni Novia ketika isi materi cerpen di TIM. 

Singkat cerita Uni Novia yang founder Blogger Muslimah (kita singkat BM aja yah biar gampang,  eh bukan Black Market loh) mau adain BM Meet Up. Karena Uni juga ngomporin saya nulis di blog ini lagi *makanya bebersih pake kemoceng deh*, saya putuskanlah hadir di sana pada 27 Agustus lalu.  Lokasinya di Nutrifood Inspiring Center (apartment Menteng Square). Abis nitip motor di stasiun Pocin, naik keretalah saya ke sta Manggarai,  dari sana sambung gojek cuma enam rebu. Praktiiis. 

Di sana ketemu banyak blogger,  ada yang guru,  kepala sekolah,  penulis,  ibu rumah tangga,  dll dah. Kita masing-masing bawa potluck kue-kuean,  buah,  atau snack. Eh pas turun dari gojek nemu warteg di sebelah apartemen wkwkkw udah ngincer buat makan secara belum sarapan. 

Tanpa disangka ada Mba Dee dari Noura. Sama-sama kaget pas lihat-lihatan,  secara kabarnya kami berdua ni orang sibuk yang demen jalan-jalan *aissh nggak ada apa-apanyalah saya nih dibanding mba Dee*. Mba Dee rupanya datang untuk berbagi pengetahuan tentang dunia penerbitan. 

Tuh dua di antara presentasi Mba Dee yang penting buat para penulis. Jadi jangan ada alesan susah cari tema ya *keplak muka sendiri*

Habis Mba Dee turun podium panggung *biar resmi dikit bahasanya* muncullah tim Viva Cosmetics yang presentasi tentang kosmestik ini dan demo make up. Eeh ibu kepalanya datang langsung loh dari Surabaya. Dan ternyata pabrik Viva ni si Surabaya gueedee buangeeeet dan udah berdiri lama. 

Pas sesi make up inih saya sempet ngacir ke warteg bentaran karena laper belum sarapan *ups ketawan deh*. Dan taraaa semua peserta dapat satu paket goody bag dari Viva,  duh makasiiih ya.  Pas banget lagi butuh bedak dan bb cream *cc cream kalau ala Viva mah*

Habis itu kita menyikat potluck yang dibawa sambil menikmati minuman yang udah disediakan Nutrifood secara gratis. Wohooo susu coklat Hi Lo ternyata uwenaaak wkwkkw, norak. Sementara menanti yang lain sholat secara giliran. 

Lalu acara dilanjutkan, Uni Novia bawa materi tentang cerita fiksi, plus ada worlip alias workshop kilat,  kami diminta buat opening cerita dua paragraf di fb masing-masing.  Aduh lagi nggak mood banget nulis,  sampai hapus beberapa kali, akhirnya bikin deh,  rada-rada thriller *gegara hobi nonton CSI dan Castle* dan dapat predikat juara dua wkkwkw. Alhamdulilah dapat 3 buah buku. 

Tepat pukul 3 sore acara kelar. Pada potoan bareng deh, lalu pamitan,  cipika-cipiki ama peserta. Di bawah saya jumpa bentar dengan Kang Arul yang mau jemput Uni Novia. Udah lama banget nggak ketemu pak dosen inih, gayanya santai pakai celana pendek selutut. 

Selain Viva Cosmetics dan Nutrifood, acara ini disponsori juga oleh Gogobli Indonesia, Margaw,  dan She Collection. Ebuset keren juga panitia bisa gaet banyak sponsor ini acara wkwkwk. 
Ah akhirnya berguna gosrekan kemoceng di blog inih. Sempet kaku nulisnya karena bergaya formal *halah Ra, ini tulisan di blog,  bukan buku yaak, santaaaii*,  sempet hapus beberapa kali hingga jadi yang inih *usep keringet* dan nulisnya mepet deadline hihihi. Untungnya lagi wordpress ada aplikasi buat di henpon,  jadi tak perlulah saya buka laptop.. Mamaciih Wordpres. *gantung kemoceng*

#BloggerMuslimahMeetUp 

Ngakalin Toilet Berbayar di Windermere

Windermere adalah sebuah kawasan resort atau mungkin bisa dibilang pula kawasan desa wisata di daerah Kendal (bukan Kendal Jawa Tengah ya qiqiqi) yang kami sambangi dalam perjalanan dari Liverpool ke Scotlandia.

Begitu tiba di kawasan ini,  mulai bermunculan toko-toko dengan bentuk perumahan yang bentuk dan desainnya cantik,  antik,  unik,  tuh semua berakhiran “ik” yang bikin mata ingin memandang.

image

Toko favoritnya Mamak Irma hihi

image

Nah kek gang-gang ginih

image

Hmm apa yah, salah satu persimpangan dk Windermere kali hihi

Bella,  teman seperjalanan saya malah bobok,  aiisshh padahal pemandangannya bagus ituh.  Mereka pandai mendisplay barang dagangan di balik dinding-dinding kaca yang pokoknya buat kita pengen nengok.

Kang Herry,  TL kami mengumumkan di sini ada danau terbesar di Inggris,  nanti kita turun untuk foto-foto,  memakan bekal piknik,  dan foto-foto lagi. 

Begitu turun dari bus,  kami semua sudah berhamburan turun untuk berfoto di kawasan pertokoan dan cafe-cafe di sana.  Konturnya menaik dan bergang-gang dengan bangunan berdinding bebatuan alam.

Selanjutnya kami menuju kawasan danau yang indaaaaah.  Ada perahu-perahu kayu berjejer rapi terparkir di tepi danau, dan yang asyik,  di sini banyak bebek (apa itik ya?)  dan angsa yang jinak-jinak banget dan nggak takut sama pengunjung.

Mereka dengan cueknya duduk atau tiduran di tempat turis lalu lalang.  Bahkan jaraknya bisa dekat sekali,  kalau diajak foto pun mereka nggak bergeming,  diam aja di tempat.  Sesekali mereka menyemplung dan berenang di danau.

image

image

Mereka asyik berenang. Airnya bbrrr ni

image

Jaraknya deket bingit ni pas moto

Di sini banyak turis datang dengan anjing-anjing mereka yang lucu-lucu.  Baik anjing gede atau kecil semua serba lucu dan dengan dandanan yang menarik juga,  misalnya dipakein baju atau bulunya diikat.  Jadi salah satu pemandangan yang menarik juga.

Di sana Bella seperti biasa syuting video,  sekaligus membuat foto endors beberapa produk titipan teman kami hihi. 

Kami juga piknik di sana.  Makan nasi dengan bekal rendang,  teri kacang,  kering tempe,  abon,  sambel,  yaaa menu khas yang bisa dibawa pelesiran ke LN bila sulit menemukan makanan halal dan tahan lama,  alias nggak cepat basi. 

Kang Herry lalu menyuruh kami yang ingin buang hajat untuk segera ke toilet,  sebelum lanjut mblusukan ke kawasan Windermere.

Naaaaah,  di sini serunya. Ramai-ramai kami para wanita berjalan ke toilet.  Sampai di sana… beberapa yang sudah sampai berdiri terpaku.  Kenapa tuh?

“Bayar 40p,  baru bisa masuk,” katanya.

Saya melihat di balik pintu toilet yang terbuka ada semacam gerbang kecil ala di stasiun kereta,  yang pintunya akan terbuka bila kami memasukan coin senilai 40p. Masalahnya… rata-rata nggak punya coin 40p. Punyanya 1 Pounds atau 1/2 Pounds.  Mesinnya nggak menyediakan kembalian.  Sebenarnya nggak apa si. 

“Abis nggak ada mas atau mbaknya yang jaga sik,” canda kami.

Tapi lalu Bella punya ide gila.

“Gini-gini…  Aku masukin 1 pounds ya,  pada berdiri berdempetan biar bisa masuk ramai-ramai,  gimana,  berani nggak?”

Awalnya kami masih takut nggak bisa keluarnya hihihi.  Etapi nekad aja,  kalau pintu nggak membuka pas keluar,  ya ngesot aja via kolongnya wkwkwk.

Akhirnya mulailah para kebeleters berdiri berbaris berdempetan,  Bella memasukkan coin dan begitu pintu terbuka,  hiaaaaa semua buru-buru mausk sambil ngikik-ngikik.

Ada dua kloter para kebeleters yang pakai cara itu. Dan ternyata keluarnya…  Gampang saja sodara-sodara,  sensor pintu langsung bekerja dan membuka setiap ada yang hendak keluar.

image

Ni dia alatnya

image

Ni dia biangnya yang ngakalin toilet

Wkwkwk salah sendiri bikin toilet nyusahin sik.  Dan passs lagi nggak ada para bule yang ke toilet pula.  Sepiii…  Cuma rombongan kami yang berisik dan masih ngakak-ngakak karena berhasil mengerjai toilet berbayar itu.  Kudunya per orang 40p, ini bisa 1 Pounds untuk berlima. 

Ah lega udah pipis dan tentunya cebok pake botol Mama Lemon hihi.

Percobaan Pertama Botol Mama Lemon

Ups… Ini bukan iklan,  bukan promo. Kalaupun disangka iklan,  ya Mama Lemon kudu kasih saya sangu untuk bekal perjalanan berikutnya wkwkwk.

Jadiiii,  teman saya Thata,  berdasarkan pengalamannya jalan-jalan,  selalu bekal sebuah botol Mama Lemon kosong demi kemashlatan dunia perpipisan.  Yup…  Kalau kita buang air kecil di luar negeri kan suka nggak ada alat buat ceboknya.  Aduh,  risih kakaaa…  Bahkan di Turki yang mayoritas penduduknya beragama Islam aja,  toiletnya nggak ada alat buat cebok.

Maka,  Thata yang juga akan trip ke Inggris tapi beda rombongan dengan saya ini,  sudah woro-woro agar pakai botol kosong ML (kok singkatannya ngarah-ngarah ni hihihi) kalau mau cebok di Inggris nanti.

Beberapa hari sebelum berangkat,  saya beli deh tuh sabun cuci piring ML ukuran paling kecil.  Itu aja masih kegedean menurut saya sik.  Sampai rumah saya pindahkan isinya ke botol aqua kosong dan saya cuci bersih.  Saya taro dalam ransel. 

Kami terbang tanggal 16 Maret 2016 jam 20.30 menggunakan Turkish Airlines.  Sesuai judul pesawatnya,  maka kami transit di Turki sekitar 2 jam.  Penerbangan selama 11 jam itu dilalui dengan apa??  Tidurrr sodara-sodara.  Bahkan Bella,  teman seperjalanan saya yang biasanya susah tidur pun bisa molor lama.  Kami cuma bangun untuk makan!

Mamak Irma pesen jaga pandangan.  Tapi sumpah!  Susah jaga pandangan di pesawat Turki.  Belom-belom udah nemu satu makhluk manis,  amprokan waktu saya mau ke toilet.  Sampai seat saya bisik-bisik sama Bella,  “Bell…  Ada yang ganteng.”

“Iya tau,  yang duduknya di sana,  kan?” dia menunjuk satu arah.  Ish udah tau duluan die.

“Iya,  cambangnya aja rapi ya,  wkwkwkw. ”

Begitu pesawat landing dan kami siap-siap turun.  Si makhluk manis itu berdiri,  mengenakan jaket hijau.  Posisinya cukup dekat dari kami,  dengan wajah menyamping.  Aiiisshh…

Kasak-kusuklah dengan Bella.
“Bell…  Candid Bell….”

Bella mengambil camera mirrorlessnya dan sok-sok mengecek cameranya itu sambil sesekali diarahkan ke si manis.

Ceklek… Ceklek…  Dapat beberapa kali meski menghadap samping.  Lumayanlah qiqiqiiq…

Ish nih tulisan,  napa bergeser dari Mama Lemon ke cowok manis ya hahahaha, dasar.

Trus… Trus…  Begitu sudah sampai bandara,  kami dipersilahkan pipis sama TL kami.  Aha…  Inilah saatnya percobaan pertama menggunakan botol ML ituh.

Sebelumnya di pesawat Bella sudah berpesan agar saya testimoni bagaimana cebok dengan botol ML.

Sebelum masuk bilik toilet,  saya isi botol dengan air.  Saya sempat lupa kalau toilet di Turki tuh,  tisyu dekat wastafel mengambil dengan sistem sensor tangan wkwkwk.  Kebetulan tisyu dalam bilik toilet habis,  maka saya ambil tisyu dari luar.

Duduklah saya di dudukan toilet…  Mengeluarkan hajat dan… Beraksi dengan botol si Mama Lemon.

Pencet-pencet botol beberapa kali,  musti men-sinergikan posisi duduk dulu biar mantap wkwkwk.  Berhasil…

Ah,  recommended deh buat teman-teman yang mau pelesiran ke LN,  bekal botol ML demi kenyamanan dunia perpipisan.  Meski kalau ada botol ukuran lebih kecil lagi saya pikir akan lebih passsss…  Yuk usulin ke produsen Mama Lemon supaya buat ukuran kecil demi kenyamanan para traveller,  loh?!

Yak,  demikian testimoni saya soal cebok pakai botol kosong ML.  Masih menunggu sekitar 1 jam lagi sebelum naik pesawat berikutnya menuju Manchester.  Sementara Bella lagi buat video jalan-jalannya,  entah di mana.

Belll…  Where are youu…

Keenakan Menjadi Content Editor

image

Awal saya terjun sebagai Content Editor (CE) adalah ketidaksengajaan. Ada sebuah novel saya berjudul Cinta-Mu Sebening Embun diterbitkan oleh Hikmah (sekarang Noura Books) setelah singgah di beberapa penerbit namun tak kunjung jelas nasibnya. Katanya dialog-dialog dalam novel tersebut hidup. Suhindrati Shinta, Editor in Chief Hikmah kala itu yang mempertaruhkan nama baiknya (eciyeee lebay banget bahasanya wkwkwk) untuk menjajal saya sebagai editor lepas. Saya diminta memperbaiki sebuah naskah novel yang bahasanya kurang dinamis.

“Mba tolong tambahin dialog ya biar hidup.” Cukup kerja keras juga memperbaiki naskah tersebut namun tak sia-sia karena terpilih oleh sebuah PH untuk disinetronkan. Saya sampai becanda sendiri, aturan nama penulisnya duet tuh; Laura dan penulis asli hehe.

Ohya sebelum lanjut, saya jelaskan sedikit apa itu CE ya, yakni seseorang yang tugasnya memperbaiki naskah. Naskah yang diperbaiki belum tentu jelek (jelek atau nggak itu tergantung persepsi ya), tapi bisa jadi naskah itu terlalu kaku, membosankan, atau kurang asyik dibaca. Nah tugas CE tuh gampangnya mendramatisir naskah sesuai permintaan penulis atau penerbit.

Sejak itu saya rutin mengedit naskah, terutama novel dan memoar. Tapi naskah nonfiksi pun bisa. Seperti beberapa buah bukunya Ayah Edy.

image

Untuk novel atau memoar, biasanya saya bertugas untuk mendramatisir naskah agar sisi emosionalnya makin seru. Misalnya, si penulis hanya menuliskan kalimat; Nia menangis setelah mendengar kabar itu. Maka oleh saya diolah lagi seperti; bahu Nia bergucang, kepalanya menunduk dan terdengar isakan halus yang semakin lama semakin kencang suaranya. Berita itu terlalu pedih baginya, bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya. Begitu deh contohnya.

Beberapa memoar saya edit, seperti memoar Bunda Iffet Slank.

image

Ingat banget tuh, tiga hari berturut-turut saya mampir ke markas Slank di Potlot untuk wawancara Bunda Iffet guna memperkaya nuansa tulisan. Sempat melihat beberapa personil Slank mondar-mandir untuk latihan band. Pas Launching di Potlot pun saya hadir dan bertemu beberapa artis termasuk Giring Nidji. Yang saya ingat, sambel petis mangganya uwenaaak hahaha.

Kemudian saya juga mengedit beberapa buku Oki Setiana Dewi.

image

Tentu saya berjumpa pula dengannya beberapa kali, biasanya di Margo City Depok hehe.

image

Oki orangnya baik dan ramah, cantik, dan langsing hahaha. Waktu mengedit Dekapan Kematian, saya seperti mendapat petunjuk bahwa Mama saya yang waktu itu sakit keras akan segera pergi. Ternyata benar. Beberapa waktu setelahnya saya wazap Oki, bercerita soal ini. Tanpa saya duga Oki langsung menelepon saya, “Ya Ampun Mbaa kenapa nggak kasih tau waktu ibunya meninggal? Aku kan bisa takziah ke sana,” yaaa nggak kepikiran lah kasih tahu Oki hehe.

Yang tak kalah seru adalah mendapat kesempatan mengedit memoar salah satu tokoh perdamaian umat islam, Imam Shamsi Ali

image

Imam Shamsi, asal Bulukumba (dekat Makassar) adalah imam Masjid Al Hikmah di Jamaica-New York. Pas baca naskahnya… wow… Masya Allah ada orang seperti dia yang pola pikirnya terbuka dan bisa merangkul orang untuk tidak malas ke masjid, terutama anak muda. Alhamdulillah atas undangannya, saya dan Coach saya, Irma Rahayu bisa ke Amerika pada Oktober 2014 lalu. Di NY kami menginap di rumah Imam Shamsi dan berkenalan dengan keluarganya. Selain itu kami juga ke Washington DC.

Saking asyiknya menjadi CE, saya sampai malas menulis buku sendiri hahaha. Yang ada malah nulisin buku orang, alias jadi ghost writer. Alhamdulillah saya dipercaya untuk mengedit naskah-naskah orang terkenal atau orang yang berpengaruh di bidangnya. Jadi menambah saudara dan wawasan.

image

Klien saya pun Alhamdulillah bertebaran. Nggak hanya di Jakarta, tapi juga dari daerah dan luar negeri. Itulah anehnya klien saya rata-rata jauh, bahkan nggak pernah tatap muka. Tapi kan teknologi canggih ya bisa dengan beragam cara untuk komunikasi. Seperti Bu Emmylia Hannig, orang Indonesia yang bersuamikan orang Jerman. Bu Emmy ini salah satu klien setia saya, sudah tiga bukunya saya edit. Bu Emmy tinggalnya pindah-pindah, mengikuti tugas suaminya, pernah di Jerman, Jakarta, Ethiopia, sekarang di New Delhi. Dan rajin traveling hahaha, ke Maroko, Turki, New Zealand, dll. Pas mengedit bukunya, saya berasa ada di tempat itu juga.

imageBelum-belum dia sudah minta agar saya bersiap-siap mengedit bukunya tentang India hahaha iya siap, Bu. Ada juga klien dari London, wohooo tempat impian saya itu di UK. Mba Vera ini pas mudik ke Jakarta menyempatkan ketemu saya dan memberi oleh-oleh buku One Direction hihihi, tahu dia saya ngefans sama 1D.

Selain itu saya juga menerima editan dari penulis indie, alias bukan order dari penerbit langsung. Sekarang banyak pula penulis yang mau menerbitkan bukunya sendiri dan tentu mereka butuh editor untuk mempercantik naskah.

Atau mereka yang butuh editor sebelum mengirim naskah ke penerbit mainstream. Alhamdulillah ada juga novel hasil editan saya yang lolos grupnya Gramedia, meski naskah saya sendiri pernah gagal masuk sana hihi. Judulnya Retak.

image

Belakangan entah kenapa saya diminta mengedit naskah beberapa ustad hahaha. Termasuk buku Ada Surga Di Rumahmu karya Oka Aurora itu (eiisst jangan nuduh saya Syiah loh!)

image

Juga naskahnya Ustad Bobby Herwibowo LC.

image

Kalau naskah nonfiksi biasanya saya diminta untuk mendinamiskan tulisan yang kaku agar enak dibaca. Kalau naskah terjemahan juga begitu, agar bahasanya tidak kaku dan berputar-putar hahaha, tahu sendiri kalau baca naskah terjemahan bagaimana, kan? Kadang pakai mengerutkan dahi bacanya karena terkesan bertele-tele. Nah saya bisa mengubah kalimatnya agar menjadi lebih renyah tanpa mengubah arti dan makna.

Mata editor ini terkadang sangat aware, baca undangan RT saja terkadang gemas mau memperbaiki wkwkkw. Hikmahnya saat baca naskah dari penerbit besar sekalipun, saya suka menemukan typo di buku itu. Saya sendiri pun mungkin tak luput dari ketidaksempurnaan dalam mengedit, namanya baca naskah puluhan atau ratusan halaman berulang-ulang, kadang mabok juga hahaha. Makanya saya maklum deh kalau menemukan buku dari penerbit besar dan terkenal juga ada khilafnya dalam editan setelah cetak.

Saya sudah tak pakai nama Laura Khalida, baik di buku sendiri maupun sebagai editor ya, saya sekarang pakai nama Laura Ariestiyanty (tanpa Priyantini, kecuali di paspor:p) balik ke nama pemberian orangtua, sebagai lambang doa mereka menyertai, tsaaah.

Dan… saya tak bisa menjamin naskah diterbitkan di penerbit konvensional ya. Saya bisa membantu menyambungkan dengan beberapa penerbit yang saya kenal, namun tetap keputusan di tangan penerbit. Atau mungkin penulis mau menerbitkan sendiri naskahnya, lagi ngetrend kan tuh sekarang, menerbitkan sendiri.

Baiklah sekian cerita saya perihal pekerjaan sebagai CE, next time dilanjut lagi. Yang mau diedit naskahnya mari-mari sini email saja ke laura.pro76@gmail.com (sekalian promo ni hahahhaa).

image