Ngakalin Toilet Berbayar di Windermere

Windermere adalah sebuah kawasan resort atau mungkin bisa dibilang pula kawasan desa wisata di daerah Kendal (bukan Kendal Jawa Tengah ya qiqiqi) yang kami sambangi dalam perjalanan dari Liverpool ke Scotlandia.

Begitu tiba di kawasan ini,  mulai bermunculan toko-toko dengan bentuk perumahan yang bentuk dan desainnya cantik,  antik,  unik,  tuh semua berakhiran “ik” yang bikin mata ingin memandang.

image

Toko favoritnya Mamak Irma hihi

image

Nah kek gang-gang ginih

image

Hmm apa yah, salah satu persimpangan dk Windermere kali hihi

Bella,  teman seperjalanan saya malah bobok,  aiisshh padahal pemandangannya bagus ituh.  Mereka pandai mendisplay barang dagangan di balik dinding-dinding kaca yang pokoknya buat kita pengen nengok.

Kang Herry,  TL kami mengumumkan di sini ada danau terbesar di Inggris,  nanti kita turun untuk foto-foto,  memakan bekal piknik,  dan foto-foto lagi. 

Begitu turun dari bus,  kami semua sudah berhamburan turun untuk berfoto di kawasan pertokoan dan cafe-cafe di sana.  Konturnya menaik dan bergang-gang dengan bangunan berdinding bebatuan alam.

Selanjutnya kami menuju kawasan danau yang indaaaaah.  Ada perahu-perahu kayu berjejer rapi terparkir di tepi danau, dan yang asyik,  di sini banyak bebek (apa itik ya?)  dan angsa yang jinak-jinak banget dan nggak takut sama pengunjung.

Mereka dengan cueknya duduk atau tiduran di tempat turis lalu lalang.  Bahkan jaraknya bisa dekat sekali,  kalau diajak foto pun mereka nggak bergeming,  diam aja di tempat.  Sesekali mereka menyemplung dan berenang di danau.

image

image

Mereka asyik berenang. Airnya bbrrr ni

image

Jaraknya deket bingit ni pas moto

Di sini banyak turis datang dengan anjing-anjing mereka yang lucu-lucu.  Baik anjing gede atau kecil semua serba lucu dan dengan dandanan yang menarik juga,  misalnya dipakein baju atau bulunya diikat.  Jadi salah satu pemandangan yang menarik juga.

Di sana Bella seperti biasa syuting video,  sekaligus membuat foto endors beberapa produk titipan teman kami hihi. 

Kami juga piknik di sana.  Makan nasi dengan bekal rendang,  teri kacang,  kering tempe,  abon,  sambel,  yaaa menu khas yang bisa dibawa pelesiran ke LN bila sulit menemukan makanan halal dan tahan lama,  alias nggak cepat basi. 

Kang Herry lalu menyuruh kami yang ingin buang hajat untuk segera ke toilet,  sebelum lanjut mblusukan ke kawasan Windermere.

Naaaaah,  di sini serunya. Ramai-ramai kami para wanita berjalan ke toilet.  Sampai di sana… beberapa yang sudah sampai berdiri terpaku.  Kenapa tuh?

“Bayar 40p,  baru bisa masuk,” katanya.

Saya melihat di balik pintu toilet yang terbuka ada semacam gerbang kecil ala di stasiun kereta,  yang pintunya akan terbuka bila kami memasukan coin senilai 40p. Masalahnya… rata-rata nggak punya coin 40p. Punyanya 1 Pounds atau 1/2 Pounds.  Mesinnya nggak menyediakan kembalian.  Sebenarnya nggak apa si. 

“Abis nggak ada mas atau mbaknya yang jaga sik,” canda kami.

Tapi lalu Bella punya ide gila.

“Gini-gini…  Aku masukin 1 pounds ya,  pada berdiri berdempetan biar bisa masuk ramai-ramai,  gimana,  berani nggak?”

Awalnya kami masih takut nggak bisa keluarnya hihihi.  Etapi nekad aja,  kalau pintu nggak membuka pas keluar,  ya ngesot aja via kolongnya wkwkwk.

Akhirnya mulailah para kebeleters berdiri berbaris berdempetan,  Bella memasukkan coin dan begitu pintu terbuka,  hiaaaaa semua buru-buru mausk sambil ngikik-ngikik.

Ada dua kloter para kebeleters yang pakai cara itu. Dan ternyata keluarnya…  Gampang saja sodara-sodara,  sensor pintu langsung bekerja dan membuka setiap ada yang hendak keluar.

image

Ni dia alatnya

image

Ni dia biangnya yang ngakalin toilet

Wkwkwk salah sendiri bikin toilet nyusahin sik.  Dan passs lagi nggak ada para bule yang ke toilet pula.  Sepiii…  Cuma rombongan kami yang berisik dan masih ngakak-ngakak karena berhasil mengerjai toilet berbayar itu.  Kudunya per orang 40p, ini bisa 1 Pounds untuk berlima. 

Ah lega udah pipis dan tentunya cebok pake botol Mama Lemon hihi.

Percobaan Pertama Botol Mama Lemon

Ups… Ini bukan iklan,  bukan promo. Kalaupun disangka iklan,  ya Mama Lemon kudu kasih saya sangu untuk bekal perjalanan berikutnya wkwkwk.

Jadiiii,  teman saya Thata,  berdasarkan pengalamannya jalan-jalan,  selalu bekal sebuah botol Mama Lemon kosong demi kemashlatan dunia perpipisan.  Yup…  Kalau kita buang air kecil di luar negeri kan suka nggak ada alat buat ceboknya.  Aduh,  risih kakaaa…  Bahkan di Turki yang mayoritas penduduknya beragama Islam aja,  toiletnya nggak ada alat buat cebok.

Maka,  Thata yang juga akan trip ke Inggris tapi beda rombongan dengan saya ini,  sudah woro-woro agar pakai botol kosong ML (kok singkatannya ngarah-ngarah ni hihihi) kalau mau cebok di Inggris nanti.

Beberapa hari sebelum berangkat,  saya beli deh tuh sabun cuci piring ML ukuran paling kecil.  Itu aja masih kegedean menurut saya sik.  Sampai rumah saya pindahkan isinya ke botol aqua kosong dan saya cuci bersih.  Saya taro dalam ransel. 

Kami terbang tanggal 16 Maret 2016 jam 20.30 menggunakan Turkish Airlines.  Sesuai judul pesawatnya,  maka kami transit di Turki sekitar 2 jam.  Penerbangan selama 11 jam itu dilalui dengan apa??  Tidurrr sodara-sodara.  Bahkan Bella,  teman seperjalanan saya yang biasanya susah tidur pun bisa molor lama.  Kami cuma bangun untuk makan!

Mamak Irma pesen jaga pandangan.  Tapi sumpah!  Susah jaga pandangan di pesawat Turki.  Belom-belom udah nemu satu makhluk manis,  amprokan waktu saya mau ke toilet.  Sampai seat saya bisik-bisik sama Bella,  “Bell…  Ada yang ganteng.”

“Iya tau,  yang duduknya di sana,  kan?” dia menunjuk satu arah.  Ish udah tau duluan die.

“Iya,  cambangnya aja rapi ya,  wkwkwkw. ”

Begitu pesawat landing dan kami siap-siap turun.  Si makhluk manis itu berdiri,  mengenakan jaket hijau.  Posisinya cukup dekat dari kami,  dengan wajah menyamping.  Aiiisshh…

Kasak-kusuklah dengan Bella.
“Bell…  Candid Bell….”

Bella mengambil camera mirrorlessnya dan sok-sok mengecek cameranya itu sambil sesekali diarahkan ke si manis.

Ceklek… Ceklek…  Dapat beberapa kali meski menghadap samping.  Lumayanlah qiqiqiiq…

Ish nih tulisan,  napa bergeser dari Mama Lemon ke cowok manis ya hahahaha, dasar.

Trus… Trus…  Begitu sudah sampai bandara,  kami dipersilahkan pipis sama TL kami.  Aha…  Inilah saatnya percobaan pertama menggunakan botol ML ituh.

Sebelumnya di pesawat Bella sudah berpesan agar saya testimoni bagaimana cebok dengan botol ML.

Sebelum masuk bilik toilet,  saya isi botol dengan air.  Saya sempat lupa kalau toilet di Turki tuh,  tisyu dekat wastafel mengambil dengan sistem sensor tangan wkwkwk.  Kebetulan tisyu dalam bilik toilet habis,  maka saya ambil tisyu dari luar.

Duduklah saya di dudukan toilet…  Mengeluarkan hajat dan… Beraksi dengan botol si Mama Lemon.

Pencet-pencet botol beberapa kali,  musti men-sinergikan posisi duduk dulu biar mantap wkwkwk.  Berhasil…

Ah,  recommended deh buat teman-teman yang mau pelesiran ke LN,  bekal botol ML demi kenyamanan dunia perpipisan.  Meski kalau ada botol ukuran lebih kecil lagi saya pikir akan lebih passsss…  Yuk usulin ke produsen Mama Lemon supaya buat ukuran kecil demi kenyamanan para traveller,  loh?!

Yak,  demikian testimoni saya soal cebok pakai botol kosong ML.  Masih menunggu sekitar 1 jam lagi sebelum naik pesawat berikutnya menuju Manchester.  Sementara Bella lagi buat video jalan-jalannya,  entah di mana.

Belll…  Where are youu…

Hamil karena Coaching? Kok bisa??

“Teh, gw pengen hamil,” begitu kata calon peserta coaching pada Teh Irma Rahayu saat wawancara.

“Hamil kok ke gw, sama laki elo dong,” jawab Teteh.

“Iyaaaa… ih Teteh kayak ga tau aja maksud gue.”

Mungkin terdengar aneh tapi nyata, beberapa coachee Mamak Irma tujuan ikut coachingnya tuh pengen hamil. Biasanya mereka adalah yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum punya anak, atau pernah keguguran dan belum berhasil hamil lagi, atau bahkan mau punya anak lagi.

Apa kaitannya pengen hamil dengan ikut  coaching? Karena kami (Emotional Healing Indonesia) adalah komunitas yang bergerak di managemen emosi negatif, pasti ada kaitannya.

Penyebab sulit hamil selain ada kendala hormon dan kesehatan organ reproduksi, tentu ada kaitannya juga dengan faktor emosi dan psikologis. Misalnya, setelah digali lebih dalam ternyata bawah sadarnya memang belum ingin punya anak karena dianggap akan menghambat penggapaian cita-cita. Atau dia trauma dengan kehamilan sebelumnya, atau takut nggak bisa mengurus amanah anak dengan baik, bahkan ada yang bawah sadar suaminya memang masih belum ingin punya anak, akhirnya pembuahan gagal, atau keguguran.

Teh Irma membantu coachee untuk merelease dulu emosi negatif mereka. Dicari akar masalah kenapa ia sulit hamil. Meskipun yang coaching istrinya, biasanya ada sesi Teh Irma ngobrol dengan suaminya. Atau bagaimanapun, meski yang coaching istrinya, suami pasti akan terkena efeknya.

Jangan heran, tugas yang dikasih kadang terdengar aneh dan nggak ada kaitannya. Misalnya… Ada yang diberi tugas merawat anggrek. Nih anak karena selalu main logika, yang ada menganalisa melulu apa kaitan menanam anggrek dengan hamil wkwkwk.

Sempat nggak dikerjain tuh tugas karena mikir apa kaitannya, sementara Teh Irma memintanya jangan banyak tanya dulu. Dua kali dia coba merawat anggrek, mungkin karena setengah hati, gagal… masih belum hamil. Ditambah karena dia LDR ama suaminya, dia selalu strik ama jadwal masa subur saat mengunjungi suami. Tapi begitu nggak juga hamil, yang ada stress dan tegang.

Teh Irma bilang, kalau mau ‘campur’ sama suami nggak harus masa suburlah, sebisanya, biar rileks dan nggak kepikiran “harus” hamil. Cukup sulit bagi tuh coachee mengubah paradigmanya. Hingga akhirnya dia nurut, melihara anggrek lagi dengan telaten dan berusaha ikhlas (tuh anggrek mau jadi or nggak, yang penting dirawat) dan mengunjungi suami sebisanya (nggak harus jadwal masa subur). Akhirnya hamil dan anaknya sudah lahir.

Ada juga coachee yang menikah di usia 40 tahun dan takut nggak bisa punya anak. Di awal pernikahan memang sulit punya anak, periksa ke sana-sini sampe capek. Hingga akhirnya Teh Irma kasih tugas: selama 3 bulan nggak usah cek sana-sini, rileks aja!

Nah loo susah deh tuh karena keluarganya menuntut dia tetap periksa. Tapi akhirnya dia berusaha nurut, berusaja rileks dan nggak periksa sana-sini dan… hamil.. wkkwkw anaknya udah usia 9 bulan kalau nggak salah.

Begitulah dua contohnya. Ada juga yang disuruh fokus ke passionnya, dia diving, travelling sama suami. Hingga akhirnya dia liburan mewah ke Bali sama suaminya (tanpa boleh mikir keluar uang berapa, intinya jangan hitung2an, yakin aja rezeki akan datang lagi) eeeh beneran hamil sepulang dari sana wkwkwkw.

Aneh tapi nyata. Teh Irma juga meyakinkan mereka yang mungkin sudah divonis dokter susah hamil untuk optimis. Yakin aja sama Allah dengan terus berusaha. Tentu tugas yang diberikan ke tiap coachee berbeda dan jangan coba-coba saling meniru karena belum tentu pas.

Sampai sekarang sudah sekitar 6 or 7  orang berhasil hamil setelah emosi negatifnya dibantu Teh Irma untuk diselaraskan. Yang masih proses juga ada.Teh Irma juga mengingatkan mereka kalau keberhasilan itu semata karena Allah. Dia hanya membantu memfasilitasi.

Jadi, yang belum berhasil punya anak… cemunguth yaaah…

Posted from WordPress for Android

Gallery

Doa Aja Minta Lapangan…

image

Itulah kalimat penyemangat yang diucapkan Bu Joko kepada anak asuhnya ketika ada yang ingin punya lapangan. Bu Joko dan suaminya Pak Joko adalah sepasang suami-istri yang mengabdikan diri mereka mengasuh 27 anak terlantar di kediaman mereka di Jagakarsa.

Pak Joko hanyalah seorang sopir pribadi, tapi ia yakin Allah takkan menelantarkan anak-anak di bawah naungan yayasan Benih Kebajikan Nusantara Al Hasyim yang diasuhnya bersama istri.

Tadi kami, rombongan Emotional Healing Indonesia singgah ke rumah Pak Joko untuk menyerahkan donasi para alumni dan peserta coaching Teh Irma Rahayu. Masya Allah donasi yang terkumpul sekitar 35 juta rupiah. Uang itu ada yang dibelikan sembako, mukena, baju koko, sarung, keperluan mandi, dan angpao jajan anak-anak, plus uang tunai Rp. 21.800.000 dalam bentuk slip bukti transfer. Bu Joko sampai menangis terharu menerima donasi kami.

Sewaktu kami ke sana, saya salut dengan keyakinan Bu Joko yang kuat akan kemahabesaran Allah. Ia selalu menyemangati anak-anak yang punya keinginan dan cita-cita.

“Minta aja sama Allah, doa.” Katanya
Bahkan saat ada anak yang pengen punya lapangan buat arena bermain, Bu Joko tanpa ragu bilang,”Pengen lapangan? Ya udah minta aja sama Allah.”

Ternyata… lapangan tempat mobil-mobil kami parkir tadi adalah jawaban doa itu. Bu Joko cerita, pemilik tanah itu adalah orang kaya dari Kemang, Bu Joko minta izin apakah tanah itu boleh diberdayakan daripada nggak kepake. Orang kaya itu setuju meski nggak memodali membuat lapangan. Bu Joko pun tanpa ragu meminta warga sekitar urunan dan bahu-membahu membangun lapangan di atas tanah itu.

Mendengar itu… sontak saya merasa ketampar… aisshh permintaan yang aneh sebetulnya: minta lapangan…. tapi Allah kasih…

Lucunya lagi, sarung yang kami belikan  untuk anak-anak rupanya merk yang selama ini mereka idam-idamkan.

“Mereka bahkan sampai tahu mana sarung yang bagus, saya mah emak2 kagak paham beginian,” katanya sambil meraba kain sarung pemberian kami.

Novy dan Intan, panitia yang belanja sarung tentu tak paham kalau itu merk sarung yang diidamkan anak-anak asuh Pak Joko. Mereka memilih sesuai naluri dan tentu tak ingin asal memilih. Kami sempat tersentak juga mendengar penuturan Bu Joko tentang sarung impian.

“Saya selalu bilang sama anak-anak, tugas kalian belajar yang bener. Kalo punya keinginan, minta aja sama Allah. Nanti Allah yang mengirimkan melalui kepala-kepala mba ini, ini… untuk ngasih ke kita,” kata Bu Joko kepada anak-anaknya sambil menunjuk ke kami.

Salah satu anak asuhan Bu Joko, bahkan penderita Celebral Palsy (CP) suatu kelainan otak. Athar, berusia 14 bulan yang ‘dibuang’ oleh orangtua kandungnya, kemudian ‘dibuang’ pula oleh orangtua angkatnya dan diserahkan ke Bu Joko.

Athar sempat koma selama 5 hari di RS dan dokter pun takjub anak ini bisa bertahan. Bu Joko dan suaminya sejak memiliki Athar jadi belajar dan mencari tahu tentang CP dan cara merawatnya. Ketika diketahui tak bisa sembuh, Bu Joko hanya bisa pasrah. “Terserah Allah anak ini nanti jadi gimana, saya hanya kuatir kalau saya udah nggak ada siapa yang merawat dia,”

Teh Irma yang memiliki ketertarikan khusus pada “anak-anak langit”, sebutannya bagi anak-anak spesial macam CP atau Autistik berbagi pengetahuanya tentang CP. Bahwa mereka memang tak bisa seperti anak normal tapi bisa dilatih untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan mereka bisa punya keahlian misalnya di bidang seni.

Masya Allah… saya berasa ditampar-tampar tentang kekuatan doa. Kalimat, “Doa aja minta lapangan,” masih terngiang-ngiang di telinga saya. Apalagi melihat wujud lapangan itu… rasanya kembali saya ditegur, apa sih yang nggak Allah kasih… minta sarung merk tertentu aja dikasih.

Apalagi ini masih bulan suci… jangan ragu kencangkan doa. Sebetulnya Teh Irma sendiri juga sering mengajarkan itu pada kami, doa sih gampang, tapi bangun keyakinannya pada Allah bahwa doa kita pasti terkabul.

Hanya ada dua kemungkinan nasib doa kita:
1. Dikabulkan
2. Diberikan yang lebih baik
“Jadi… ruginya di mana? Dan kalo doa jangan nanggung, tinggi sekalian. Wong babak belurnya sama aja kok,” kata teh Irma.

Errr…. iyaaah… iyaaah… jadi jangan ragu… Doa aja semua mau lo, karena emang manusia banyak maunya.

Kurang bukti apalagi kalau Allah akan mengerahkan ‘tangan-tangan-Nya’ untuk mengantarkan keinginan kita?

*plaaak!!*

Yang mau menyalurkan kebaikan kepada mereka bisa kontak no 0852-1381-2767

image

Athar, penderita Celebral Palsy

image

Anak-anak asuh Pak Joko

Posted from WordPress for Android

Belajar ‘Merasa’…

Bulan puasa ini Alhamdulillah saya mendapat kesempatan berbuka puasa di dua hotel berbintang 5, Ritz Carlton (RC) dan Mulia (M). Dengan makanan ala buffe yang mewah dan banyak jenisnya. Namun di tulisan ini saya hendak membahas perbedaan atmosfer yang saya rasakan di kedua hotel tersebut.

RC selama ini cuma bisa saya pandang saat menemani Teh Irma coaching di PP, tahunya dapat juga undangan bukber di RC Mega Kuningan. Juga M, selama ini hanya saya dengar gaungnya, dan pernah juga melewati. Eh dapat kesempatan pula bukber di sana kemarin.

Apa persamaan dan perbedaan kedua hotel mewah tersebut? Persamaannya tentu sama-sama mewah, meski suasananya saya rasakan lebih mewah M. Namun entah kenapa saya lebih merasakan keramahtamahan dan terbuka di RC, ketimbang M yang terkesan arogan dan kaku. Saya bahkan agak merasa ciut nyali ketika menjejakkan kaki di M. Mungkin saya yang tak terbiasa datang ke tempat mewah seperti itu. Saya seperti ada yang ngenyek-in, “Siapa lu?!” wkwkwkw.

Keramahtamahan di sini bukan dari pelayanannya ya, tapi dari suasana, aura, vibrasi yang saya rasakan. Contohnya untuk dessert, masing-masing ada space tersendiri. Namun di RC semuanya display terbuka, kita bebas mengambil, kecuali es krim yang memang perlu bantuan waiter untuk mengambilkan. Sementara di M, khusus cake-cake yang enak-enak bikin lidah terjulur itu, di’kerangkeng’ alias di-display dalam lemari kaca. Kita sebenarnya juga bebas mengambil, namun harus minta tolong waiter di balik lemari kaca tersebut untuk mengambilkan. Bikin sungkan untuk bolak-balik ngambil.
Meski seorang kawan saya rupanya mengalami kekurangramahan salah satu personil M, karena ia menuju pintu masuk hotel berjalan kaki dan berjalan di jalur mobil, ia diminta jalan di bagian pejalan kaki, namun caranya,”Ibu nggak bawa mobil ya? Sana Bu jalannya, jangan di sini.” Kudunya kan bisa dengan cara lebih sopan dan elegan… tsaaah

Selain itu, paket makan di RC sudah plus minum sampai teler ibaratnya. Ada dispenser-dispenser bening berisi air putih, es teh manis, es teh tawar, es lemon tea, hingga es teh tarik. Bebas refill sesuka hati. Sementara di M… paket makan yang nyaris menyentuh angka 400 ribu itu tanpa minum saudara-saudara. Minuman harus bayar lagi, yang air mineral aja dipatok harga 50 ribu sebotol (tentu merk air mineral mewah).

Saya sempat ngebatin, ya ampun ini M paket makan udah mahal begini tapi ‘ngebatasin’ yak… kue dikurung, minum pun bayar lagi. Kalau soal rasa… saya cuma bisa merasakan makanan tuh enak dan nggak enak hehehe. Keduanya tentu enak, ada harga ya ada mutu. Namun kalau ditanya enakan mana, saya nggak bisa menjelaskan sedetail pakar kuliner. Tapi sepertinya untuk makanan lebih kaya jenis dan rasa di M.

Saya nggak inget berapa harga paket di RC, dan nggak inget juga apa ada space khusus seafood macam tiram, kepiting, udang fresh seperti di M. Akhirnyaaa… ngerasain juga tiram, selama ini hanya lihat di pelem-pelem wkwkwk norak.

Balik ke suasana, bahkan saya masih bisa santai dan pede ke RC, meski pakai sendal jepit ala carvill, iya betul saya pakai sendal ke sana. Di M, saya pakai sepatu pun tetap merasa ciut. Saya merasa M kurang menyambut saya, makanya saya agak kikuk kemarin. Suasana pengunjung yang datang juga ada sedikit perbedaan , di RC meski formal namun ‘ramah’, sementara di M, formal ‘angkuh’. Entah apa mereka berbeda segmen pengunjung.

Sedihnya, mushola di M letaknya jauh. Bikin lelah berjalan. Kebayang deh yang bukber di sana bakalan males menyegerakan sholat Magrib. Letak musholanya di parkiran pula dan kurang proper untuk hotel sekaliber M. Sementara RC menyediakan mushola di lantai bawah cafe tempat kita makan, dekat ballroom acara kawinan. Musholanya juga enak.

Menyimpang sedikit dari tema kedua hotel di atas, saya ingin menyinggung pengalaman menemani Coach saya, Teh Irma Rahayu siaran di radio. Entah mengapa dua kali siaran di radio yang dipandang elit, namun suasana studionya pengap dan bau nggak enak. Sementara kala siaran di radio yang levelnya di bawah dua radio itu, suasana studionya bersih (meski nggak wangi) dan enak.

Radio terakhir yang kami sambangi justru parah… begitu masuk studio tuh kayak masuk ke mushola yang karpetnya belum dicuci. Kebayang dong rasanya? Ditambah penyiarnya tampil ala orang bangun tidur. Cuek banget pakai kaos oblong dan celana training selutut. Gayanya juga seperti orang belum mandi. Sementara radio yang paginya kami kunjungi, penyiarnya rapi, pakai baju layak, nggak malu-maluin deh buat nyambut tamu.

Saya mikir… kenapa ya dua radio ‘wah’ tersebut, yang mungkin diimpikan banyak narasumber untuk on air di sana, suasananya malah nggak enak. Kalau untuk merapikan dan mewangikan studio, mereka pasti punya dana untuk itu. Lantas saya berpikir dari sisi energi dan vibrasi personilnya. Hmm… Apa mungkin ini terkait pula dengan ‘akhlak’ personilnya ya? Tapi kita tentu beda merasakan aura saat datang ke masjid dan tempat dugem misalnya. Mungkin sedikit banyak mirip itulah yang saya rasakan. Pokoknya bikin ogah lama-lama di sana deh.

Yah berkecimpung di ranah healing dan therapy, tentu sedikit banyak saya jadi bisa ‘merasakan’ hal-hal yang kasat mata. Di samping Teh Irma kadang suka mengetes saya dengan menanyakan bagaimana karakter seseorang dengan membaca bahasa tubuh dan vibrasi hatinya. Saya belum ahli tentu aja, saya mah apa atuh… hehehe.

Ternyata untuk tempat pun kita juga bisa ‘merasakan’ dari sisi energi dan vibrasinya. Begitulah yang saya rasakan dari kedua hotel mewah dan elit tersebut dan beberapa radio yang pernah kami sambangi.

Posted from WordPress for Android

Proud be You

Jam 22:22 saat saya menulis ini. Belakangan suka ngeliat angka kembar, terutama 22:22. Kalau filosofi angel number sik artinya optimis aja, doa-doa lagi diproses dan goal akan tercapai. Hahaha aamiin aja dulu deh.

Eh, jadi ngelantur ni kan… jadii… inti tulisan ini sih ingin berbagi pengalaman yang nggak ada seujung kuku ini. Bukan bermaksud sotoy, yah kalau bermanfaat Alhamdulillah, nggak bermanfaat… anggap aja penggembira.

Duluuu… saya cukup tergila-gila dengan beragam seminar, training, dan buku-buku menjadi pengusaha. Yah siapa sik yang nggak ingin tajir melintir. Secaraa selama jadi karyawan gaji saya nggak pernah lebih dari angka 2 juta. Mau sampai kapan?

Akhirnya sekitar tahun 2007 saya memberanikan diri freelance sebagai penulis dan editor, meski gigit jari karena penghasilan nggak tentu. Masa transisinya setahunan tuh, nangis-nangis bombai, biasa ada gaji menjadi nggak ada. Job pun kadang ada, kadang nggak.

Di sinilah saya mencari jatidiri dengan sok-sok mau jadi entrepreneur. Seabrek buku saya baca, bahkan saya bisa dekat dengan beberapa kalangan pengusaha, sampai pernah ke rumah alm Bob Sadino segala. Tetap yang namanya keberanian untuk usaha kagak nyangkut.

Hingga kemudian saya ikut program coachingnya Teh Irma Rahayu, di sinilah saya kemudian menemukan passion saya. Bahwa emang nggak semua orang ditakdirkan jadi pengusaha. Lah, kalau semua jadi bos, siapa yang jadi karyawan… kalau semua jadi leader, siapa yang jadi asisten, sekretaris, bahkan office boy?

Dalam program coaching itu Mamak Irma membimbing coacheenya untuk mencari passion atau path-nya dalam hidup, dalam rangka mengabdi pada Allah. Bahkan hal-hal yang awalnya saya sangka menjadi kelemahan saya, ternyata bisa jadi kelebihan.

Contoh, saya yang orangnya nggak enakan, cenderung menghindari konflik, ternyata berguna di profesi saya saat ini sebagai media relations dan asisten Mamak Irma. Saat menghadapi pihak di Hong Kong yang ngotot kalau Mamak kudu hadir isi acara, padahal nggak ada di jadwal, saya harus menjembatani Mamak dan pihak itu yang rada emosi. Karena basic saya humas yang ingin tetap menjaga nama baik Mamak, maka saat pihak itu emosi, nada suara saya justru merendah, walaupun intinya sih saya tetep ngotot kalau Mamak nggak bisa isi di acara tersebut. Ngotot dengan nada rendah wkwkwk.

Kemudian saya jadi tahu passion saya dan nggak semua harus diukur dengan uang. Mamak emang punya persepsi sendiri tentang konsep kaya raya, yakni: nggak punya utang, mau apa aja dapat (meski lagi bokek), dan rezeki nggak selalu diukur dengan uang, tapi bisa berupa dapat apa yang dimau (bukan hanya kebutuhan, tapi juga keinginan), dipermudah urusan, kesehatan, dll.

Praktiknya grabak-grubuk ni. Saya paham sekali tiap ada event Money Therapy (MT) dan ditanya apa passionmu (sesuatu yang “gue” banget, bahkan rela ngelakuin walau nggak ada duitnya atau kudu ngeluarin duit)… karena dengan “do your passion, money (rezeki yang nggak melulu uang) will follow”… saat ditanya begitu… banyak yang gelagapan jawabnya.

Kenapa? Karena mereka nggak yakin kalau hal-hal tersebut bisa menghasilkan uang di kemudian hari. Misalnya pada event MT Bandung, yang katanya pengen jadi pengusaha, begitu ditanya passionnya malah jawab mempelajari karakter orang.

Nggak usah jauh-jauh deh, saya sekarang kalau ditanya mau jadi apa, bisa jawab: salah satunya pengen jadi Mediator Internasional. Hah… maksudnya apa?

Maksudnya ialah berhubung Alhamdulillah link saya luas, banyak teman di dalam dan luar negeri (thanks to medsos), dan karakter saya yang sanguins emang demen menjaring pertemanan, maka saya kerap dijuluki palugada alias apa lu mau gua ada. Saya punya kesempatan menghubungkan dua pihak yang saling membutuhkan.

Misalnya… teman saya wartawan butuh narasumber unik, saya mengusulkan teman yang tinggal di Austria dan dagang bakpia. Atau ada teman butuh make up artist, ada teman saya. Ibaratnya dari pejabat sampai preman saya ada linknya wkkwkw… ibaratnya yaaaa… ngeri juga gue mah temenan ama preman kecuali preman baik hati.

Nah, nggak heran banyak agen MLM mau ngerekrut saya. Cumaaaa kalau udah mikirin  uang….mandeg dah tuh.

Maka Coach Mamak Irma melarang saya mikirin uang (susah bok), “Itu kan passion elo jadi mediator. Dapat komisi syukur, kalo nggak dapat komisi lo pasti tetep ada rezekinya entah apa pun itu, bisa jadi urusan-urusanlo dipermudah,”

Kalau nggak ikut coaching… sumpah kagak masuk logika kan, lah hidup butuh uang broooo… semua pakai uang… iya bener… tapi nggak selalu pakai uang kita kok.

Meski grabak-grubuk, saya mengalami tuh yang namanya dapat apa yang saya butuhkan (barangnya langsung). Kayak power bank aja, dari sekitar 6x pakai power bank, yang beli cuma 2x, sisanya saya dapat.

Ke Turki juga rezeki dadakan. Pusing mikir pelunasan, tahu-tahu sehari sebelum pelunasan dapat uang belasan juta dan bisa melunasi. Umroh juga gitu, ke Amerika juga gitu. Deg-degan ngurus visa, nggak pede ama jumlah rekening bank dan jumlah gaji yang tertera di surat, tahunya dapat visa 5 tahun dengan mudah!

Maka, sekarang saya berusaha banget nggak mikirin uangnya (sekali lagi… susah bok). Apalagi ada darah Padang yang katanya matre wkwkwk. Tapi kalau dibilang orang Padang jago ngomong, mungkin ada benarnya. Jago ngomong di sini, asal saya sudah pernah merasakan barang/jasa tersebut dan terbukti berguna, saat saya cerita ke orang lain, bisa dibilang 80% tertarik. Maka saya nggak berani asal ngecap atau asal bicara. Kudu testimoni gituh deh. 

Dan kaget saja ketika benar-benar posisi Mediator Internasional ini tau-tau kejadian. Saya amazed sendiri ketika bisa menghubungkan teman antar negara (sama-sama orang Indonesia) dan tiba-tiba mereka merencanakan kerja sama atau bisnis bareng. Rasanya puasss banget meski nggak dapat komisi (kadang bingung juga ngukur komisinya hahaha).

Saya mulai percaya kalau kita memudahkan urusan orang lain, maka urusan-urusan kita pun akan dipermudah oleh Allah.

Ada orang-orang yang memang diciptakan jadi pengusaha, jadi pegawai, jadi pemimpin, jadi orang kepercayaan, dan sebagainya. Meski pasti trial dan error pada prosesnya. Yang penting mah tahu dulu apa yang dimau, kalau udah tahu dan yakin, ya kejaaar.

Passionnya jadi pengusaha, maka pasti nggak pernah nyerah meski bangkrut berulang kali, pasti nggak merasa capek coba-coba usaha ini-itu sampai ketemu yang ajeg.

Kalau menyerah, cari passion lainnya, mungkin emang bukan jiwa pengusaha.

Ya kayak saya lah, jiwa mediator alias makelar hahaha. Sebetulnya terinspirasi juga dari bukunya Jamil Azzaini: Makelar Rezeki. Kalo ada dua proyek gede menyatu karena saya… ya bohong atuh kalau nggak ngarap komisi. Saya yakin orang yang saya sambungin pun tahu diri. Cuma saya nggak nentuin kudu berapa komisinya. Kalau nggak dapat komisi pun ya saya berproses dan meningkatkan keyakinan pada Allah… rezeki saya berupa hal yang lain.

Butuh proses hingga saya pun bisa bangga dengan profesi ini. Ada teman pernah mengusulkan kenapa nggak dibuat khusus semacam usaha makelar gitu, lah saya malah bingung karena nggak ngerti spesifikasinya karena bisa berupa apa saja. Lagian Coach saya juga nggak sepakat.

Jadi, maaf ya teman-teman MLM, kalau saya emoh direkrut hahaha. Tapi saya dengan senang hati kok nyambungin, misalnya ada yang butuh Oriflame, saya tahu harus mengenalkan ke siapa, atau ada yang butuh prodak Moment, saya juga tahu menyambungkan ke siapa, dan sebagainya. Amway nih yang belum nemu wkwkwk karena ada yang cari prodaknya nih.

Sooo… yang butuh Ovomaltin dengan harga miring, make up artist, pakar SEO, web disainer, interior, Essential Oil Young Living yang mehong ituh, sampai butuh tukang kayu, bisa tanya gw ya wkwkwk… gue sambungin dah… ciyus…

Posted from WordPress for Android

Keenakan Menjadi Content Editor

image

Awal saya terjun sebagai Content Editor (CE) adalah ketidaksengajaan. Ada sebuah novel saya berjudul Cinta-Mu Sebening Embun diterbitkan oleh Hikmah (sekarang Noura Books) setelah singgah di beberapa penerbit namun tak kunjung jelas nasibnya. Katanya dialog-dialog dalam novel tersebut hidup. Suhindrati Shinta, Editor in Chief Hikmah kala itu yang mempertaruhkan nama baiknya (eciyeee lebay banget bahasanya wkwkwk) untuk menjajal saya sebagai editor lepas. Saya diminta memperbaiki sebuah naskah novel yang bahasanya kurang dinamis.

“Mba tolong tambahin dialog ya biar hidup.” Cukup kerja keras juga memperbaiki naskah tersebut namun tak sia-sia karena terpilih oleh sebuah PH untuk disinetronkan. Saya sampai becanda sendiri, aturan nama penulisnya duet tuh; Laura dan penulis asli hehe.

Ohya sebelum lanjut, saya jelaskan sedikit apa itu CE ya, yakni seseorang yang tugasnya memperbaiki naskah. Naskah yang diperbaiki belum tentu jelek (jelek atau nggak itu tergantung persepsi ya), tapi bisa jadi naskah itu terlalu kaku, membosankan, atau kurang asyik dibaca. Nah tugas CE tuh gampangnya mendramatisir naskah sesuai permintaan penulis atau penerbit.

Sejak itu saya rutin mengedit naskah, terutama novel dan memoar. Tapi naskah nonfiksi pun bisa. Seperti beberapa buah bukunya Ayah Edy.

image

Untuk novel atau memoar, biasanya saya bertugas untuk mendramatisir naskah agar sisi emosionalnya makin seru. Misalnya, si penulis hanya menuliskan kalimat; Nia menangis setelah mendengar kabar itu. Maka oleh saya diolah lagi seperti; bahu Nia bergucang, kepalanya menunduk dan terdengar isakan halus yang semakin lama semakin kencang suaranya. Berita itu terlalu pedih baginya, bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya. Begitu deh contohnya.

Beberapa memoar saya edit, seperti memoar Bunda Iffet Slank.

image

Ingat banget tuh, tiga hari berturut-turut saya mampir ke markas Slank di Potlot untuk wawancara Bunda Iffet guna memperkaya nuansa tulisan. Sempat melihat beberapa personil Slank mondar-mandir untuk latihan band. Pas Launching di Potlot pun saya hadir dan bertemu beberapa artis termasuk Giring Nidji. Yang saya ingat, sambel petis mangganya uwenaaak hahaha.

Kemudian saya juga mengedit beberapa buku Oki Setiana Dewi.

image

Tentu saya berjumpa pula dengannya beberapa kali, biasanya di Margo City Depok hehe.

image

Oki orangnya baik dan ramah, cantik, dan langsing hahaha. Waktu mengedit Dekapan Kematian, saya seperti mendapat petunjuk bahwa Mama saya yang waktu itu sakit keras akan segera pergi. Ternyata benar. Beberapa waktu setelahnya saya wazap Oki, bercerita soal ini. Tanpa saya duga Oki langsung menelepon saya, “Ya Ampun Mbaa kenapa nggak kasih tau waktu ibunya meninggal? Aku kan bisa takziah ke sana,” yaaa nggak kepikiran lah kasih tahu Oki hehe.

Yang tak kalah seru adalah mendapat kesempatan mengedit memoar salah satu tokoh perdamaian umat islam, Imam Shamsi Ali

image

Imam Shamsi, asal Bulukumba (dekat Makassar) adalah imam Masjid Al Hikmah di Jamaica-New York. Pas baca naskahnya… wow… Masya Allah ada orang seperti dia yang pola pikirnya terbuka dan bisa merangkul orang untuk tidak malas ke masjid, terutama anak muda. Alhamdulillah atas undangannya, saya dan Coach saya, Irma Rahayu bisa ke Amerika pada Oktober 2014 lalu. Di NY kami menginap di rumah Imam Shamsi dan berkenalan dengan keluarganya. Selain itu kami juga ke Washington DC.

Saking asyiknya menjadi CE, saya sampai malas menulis buku sendiri hahaha. Yang ada malah nulisin buku orang, alias jadi ghost writer. Alhamdulillah saya dipercaya untuk mengedit naskah-naskah orang terkenal atau orang yang berpengaruh di bidangnya. Jadi menambah saudara dan wawasan.

image

Klien saya pun Alhamdulillah bertebaran. Nggak hanya di Jakarta, tapi juga dari daerah dan luar negeri. Itulah anehnya klien saya rata-rata jauh, bahkan nggak pernah tatap muka. Tapi kan teknologi canggih ya bisa dengan beragam cara untuk komunikasi. Seperti Bu Emmylia Hannig, orang Indonesia yang bersuamikan orang Jerman. Bu Emmy ini salah satu klien setia saya, sudah tiga bukunya saya edit. Bu Emmy tinggalnya pindah-pindah, mengikuti tugas suaminya, pernah di Jerman, Jakarta, Ethiopia, sekarang di New Delhi. Dan rajin traveling hahaha, ke Maroko, Turki, New Zealand, dll. Pas mengedit bukunya, saya berasa ada di tempat itu juga.

imageBelum-belum dia sudah minta agar saya bersiap-siap mengedit bukunya tentang India hahaha iya siap, Bu. Ada juga klien dari London, wohooo tempat impian saya itu di UK. Mba Vera ini pas mudik ke Jakarta menyempatkan ketemu saya dan memberi oleh-oleh buku One Direction hihihi, tahu dia saya ngefans sama 1D.

Selain itu saya juga menerima editan dari penulis indie, alias bukan order dari penerbit langsung. Sekarang banyak pula penulis yang mau menerbitkan bukunya sendiri dan tentu mereka butuh editor untuk mempercantik naskah.

Atau mereka yang butuh editor sebelum mengirim naskah ke penerbit mainstream. Alhamdulillah ada juga novel hasil editan saya yang lolos grupnya Gramedia, meski naskah saya sendiri pernah gagal masuk sana hihi. Judulnya Retak.

image

Belakangan entah kenapa saya diminta mengedit naskah beberapa ustad hahaha. Termasuk buku Ada Surga Di Rumahmu karya Oka Aurora itu (eiisst jangan nuduh saya Syiah loh!)

image

Juga naskahnya Ustad Bobby Herwibowo LC.

image

Kalau naskah nonfiksi biasanya saya diminta untuk mendinamiskan tulisan yang kaku agar enak dibaca. Kalau naskah terjemahan juga begitu, agar bahasanya tidak kaku dan berputar-putar hahaha, tahu sendiri kalau baca naskah terjemahan bagaimana, kan? Kadang pakai mengerutkan dahi bacanya karena terkesan bertele-tele. Nah saya bisa mengubah kalimatnya agar menjadi lebih renyah tanpa mengubah arti dan makna.

Mata editor ini terkadang sangat aware, baca undangan RT saja terkadang gemas mau memperbaiki wkwkkw. Hikmahnya saat baca naskah dari penerbit besar sekalipun, saya suka menemukan typo di buku itu. Saya sendiri pun mungkin tak luput dari ketidaksempurnaan dalam mengedit, namanya baca naskah puluhan atau ratusan halaman berulang-ulang, kadang mabok juga hahaha. Makanya saya maklum deh kalau menemukan buku dari penerbit besar dan terkenal juga ada khilafnya dalam editan setelah cetak.

Saya sudah tak pakai nama Laura Khalida, baik di buku sendiri maupun sebagai editor ya, saya sekarang pakai nama Laura Ariestiyanty (tanpa Priyantini, kecuali di paspor:p) balik ke nama pemberian orangtua, sebagai lambang doa mereka menyertai, tsaaah.

Dan… saya tak bisa menjamin naskah diterbitkan di penerbit konvensional ya. Saya bisa membantu menyambungkan dengan beberapa penerbit yang saya kenal, namun tetap keputusan di tangan penerbit. Atau mungkin penulis mau menerbitkan sendiri naskahnya, lagi ngetrend kan tuh sekarang, menerbitkan sendiri.

Baiklah sekian cerita saya perihal pekerjaan sebagai CE, next time dilanjut lagi. Yang mau diedit naskahnya mari-mari sini email saja ke laura.pro76@gmail.com (sekalian promo ni hahahhaa).

image